Langsung ke konten utama

Cukup


 Ada bagian hati yang tidak tersampaikan, kemudian kita temukan kata ‘cukup’ untuk mengakhirinya.

            Mungkin begitu semestinya.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Istikharah Cinta

oleh : Sigma
Bersaksi cinta diatas cinta Dalam alunan tasbih ku ini Menerka hati yang tersembunyi Berteman dimalam sunyi penuh do'a
Sebut nama Mu terukir merdu Tertulis dalam sajadah cinta Tetapkan pilihan sebagai teman Kekal abadi hingga akhir zaman
Istikharah cinta memanggilku Memohon petunjukmu satu nama teman setia Naluriku berkata
Dipenantian luahan rasa Teguh satu pilihan Pemenuh separuh nafasku Dalam mahabbah rindu
Di istikharah cinta..


Tanam dan Tuai

Apa yang kamu tanam, itulah yang kamu tuai.

              Pepatah tua telah mengajarkan kita akan pelajaran kehidupan.Ibaratnya seorang petani yang menanam padi, tentu akan menuai padi pada akhirnya. Tidak mungkin menuai mangga, jambu ataupun yang lain. Kebaikan dan keburukan pun berlaku seperti itu. Seorang pernah berujar, bahwa dunia ini tidak adil. Mengapa? Ia mengatakan, orang-orang baik, yang memiliki akhlak yang bagus, mulia dan terpuji justru tidak merasakan kebaikan yang ditanamnya. Ia berpandangan begitu dengan melihat orang-orang miskin di sekitarnya. Lantas dibandingkan dengan orang-orang kaya raya, justru merasakan kebaikan dunia ini dengan kemewahannya, padahal mereka sendiri memiliki akhlak yang buruk, eogis, lupa sholat, dan lainnya. Lalu? Bagaimana dengan konsep tanam dan tuai? Sejenak kita mengingat kepada apa yang disampaikan oleh pemilik dunia ini dan seisinya.
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsi…

Cukuplah Allah Bagiku...