Langsung ke konten utama

Postingan

Buat Aku Tersenyum

By : SO7
Datanglah sayang Dan biarkan aku berbaring Di pelukanmu,walaupun 'tuk sejenak Usaplah dahiku Dan kan kukatakan semua
Bilaku lelah tetaplah di sini Kar'na engkaulah satu-satunya untukku Jangan tinggalkan aku sendiri Bilaku marah biarkan ku bersandar Jangan kau pergi untuk menghindar
Rasakan resahku Dan buat aku tersenyum Dengan canda tawamu, Walaupun tuk sekejap Kar'na hanya engkaulah Yang sangggup redakan aku
Dan pastikan kita selalu bersama Kar'na dirimulah yang sanggup mengerti aku Dalam susah maupun senang
Dapatkah engkau selalu menjagaku         Dan mampukah engkau mempertahankanku ..


Postingan terbaru

Seribu

Masih harus seribu buku Masih harus seribu ilmu Masih harus seribu roti Masih harus seribu bukti Masih harus seribu tawar Masih harus seribu sabar Masih harus seribu tulisan Masih harus seribu pemberian Masih harus seribu tenaga Masih harus seribu percaya


Lelaki Sejati

Tunggu tanggal mainnya! Kau tahu, ibarat bom waktu, ia hanya butuh ‘cukup waktu’ untuk ‘meledak’. Terlalu dini mungkin akan menciderai. Terlalu lama mungkin tidak akan jadi senjata. Dan kehadiranmu… bak ‘pemantik’ jelita. Hingga nanti meledaklah semua. Oh sungguh bahagia.
Kehadiranmu mampu merubah semua. Lelaki yang dulunya alpa, dipandang sebelah mata. Kini sempurna, bagaikan raja.
*** Perasaan ingin melindungi. Melindungi mereka yang dicintai sepenuh hati. Tak ingin melihat orang kesayangannya tersakiti. Maka, apapun akan dijalani. Meski harus berjaga diri, semenjak dini hingga gelapnya hari.
Perasaan ingin memimpin. Memberikan arahan dan haluan. Mempersiapkan kompas kehidupan. Memenuhi visi dan misi perjalanan. Maka, semua akan dipersiapkan. Meski harus kelelahan, agar kelak tak salah tujuan.
Perasaan ingin memberi. Tak perlu diminta. Tersebab rasa, mudah ia beri segala. Apa-apa saja yang dipunya, ia beri cuma-cuma. Maka, semua akan dicari, tanpa menutut kembali. Meski harus kesana-kemari…

Ya Allah...

…dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (QS. 94: 8)
“Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang, maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berhadap kepada-Nya.” – Imam Syafi’i
Kepada Allah ku kan mengadu. Tentang perasaan dan semua ketakutanku. Biar Allah yang menjadi penentu. Saat takdir membuat semua jelas. Kepada manusia, hanya kecewa berbalas.

Pelarian

Bangunlah wahai sang pecinta sujud. Terjagalah wahai sang pecinta tahajud.  Tidakkah ada kerinduan menggelayut.
Seperti halnya ibuku mengajariku, untuk menggantungkan seluruh kehidupanku di penghujung malamku. Karena ku tahu, kepada-Nya ku meletakkan seluruh pengharapanku, Allah Yang Maha Kuasa. Karena ku tahu, dunia ini hanya fana dan sementara. Mari persiapkan bekal, untuk perjalanan sesungguhnya, untuk kehidupan akhirat selamanya.
Dari Abu Hurairah ra., Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda : “Allah Ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman, ‘Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni. (HR. Bukhari & Muslim)
Sepertiga malam terakhir, adalah waktu pelarianku. Sajadah dan air wudhu adalah perlengkapanku. Mushaf adalah senjataku. Begitulah aku dalam penyendirianku.  Penghujung malam, tempatku akan mengadu. Te…

Malu

Manusia dasar pelupa. Begitulah diriku.
Sering kali kita hanya memberikan yang terbaik, hanya kepada orang-orang yang ‘kurang tepat’, kepada mereka yang baru saja dikenal, kepada mereka yang bahkan asing sama sekali. Bersikap sopan santun karena takut untuk dijauhi, berbicara lemah lembut karena takut dipecat. Sisi lain, bisa sekali kita bersikap keras dan berkata kasar kepada kedua orang tua kita. Pertanyaannya, bagaimana bisa? Bukankah mereka yang sedari dulu membesarkan kita? Bukankan dari dulu mereka yang meneteskan keringat jerih payahnya untuk kita? Lalu mengapa sikap dan tutur terbaikmu, kamu peruntukkan tidak kepada mereka? Malu.
Berikut saudara-saudaramu. Mereka yang telah membersamaimu dalam perjuangan hingga saat ini. Memberikan nasihat penguat saat kamu jatuh. Mendengarkan seksama segala keluhan darimu. Lalu pantaskah, pemberian cuma-cumamu hanya kamu peruntukkan kepada mereka yang tidak memberikan apa yang telah diberikan saudaramu untukmu? Kemana letak kesadaranmu? Malu.
Ak…

Entah Kamu

(Mas Gun)

“Aku mencintaimu dan aku mau mewujudkannya dalam tindakan”. “Tidak usah,” katamu menolak tawaran.
Lalu, dilain waktu kamu justru resah menanti seseorang yang kamu harap datang. Meski keberadaannya tidak pernah kamu ketahui, bahkan cintanya pun tidak kamu mengerti. Kamu memilih ketidakpastian daripada kepastian. Bukankah selama ini kamu sendiri yang menuntut kepastian?
Ketika kamu mencari kepastian, aku datang menawarkannya. Lalu, kamu justru ragu memberikan kepercayaan. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya kamu cari. Di lain hari kamu resah mencari. Mencari sesuatu yang jauh, sesuatu yang bahkan tidak kamu kenali. Sesuatu yang katanya telah disiapkan Tuhan bahkan sejak kamu belum lahir. Apa kamu tidak pernah bertanya pada diri sendiri bahwa mungkin ia menciptakan kita sebagai takdir itu?
Aku mungkin harus menghilang dari kehidupanmu agar kamu sadar dan menyadari bahwa ada yang hilang dalam hidupmu. Kesadaran yang membuatmu mengerti bahwa ada orang yang memiliki perasaan yang ba…