Langsung ke konten utama

Postingan

Jika Nanti

Jika nanti, kamu temukan seseorang yang lebih dariku dalam segala hal, semampumu pertahankanlah dia dengan baik. Karena bisa jadi, dia tidak diciptakan untuk dilewatkan olehmu berulang kali.
Jika nanti, datang padamu seseorang yang tetap ingin bersamamu saja meski dia telah tahu kurangmu, tolong jangan pernah kamu siakan. Karena saat itulah, kamu menjadi orang yang paling beruntung sedunia–dicinta tanpa perlu meminta.
Jika nanti, ada seseorang yang berupaya keras meyakinkanmu bahwa ada cintanya untukmu, silakan pegang erat tangan dan keinginannya. Karena harus kamu tahu, melepaskannya adalah jenis kesalahan yang akan kamu sesali selamanya.
Jika seseorang yang baik itu tiba dalam perjalananmu melupakanku, jangan pernah pikirkan kecewaku. Teruslah berjalan dan jatuh cintalah lagi. Walaupun akan terasa sulit bagiku, tapi aku telah cukup bangga sebab tugasku begitu mulia–menyerahkan hatimu kepada seseorang yang lebih tepat dariku.
Jika semua itu terjadi, jangan pernah menoleh lagi padaku…
Postingan terbaru

Harapan dan Penyesalan

Rasanya aku sudah terlalu akrab dengan apa yang kita sebut sebagai "penyesalan". Sampai-sampai aku sudah tidak bisa lagi memunculkan harapan, hanya karena takut menyesal.
Iya. Harapan. Sebelumnya aku berpikir, bahwa sumber dari penyesalan adalah harapan. Maka kalau tidak mau menyesal ya jangan berharap. Sampai akhirnya, aku baru menyadari. Bahwa tidak berharap, justru membuatku tetap menyesal pada akhirnya. Bahkan penyesalannya lebih besar. Bagaimana bisa?
Aku coba kenali kembali seluruh skenario penyesalan yang pernah terjadi di dalam hidupku sampai detik ini. Skenario terbanyak mungkin seperti ini : ketika aku menginginkan suatu hal, tapi kenyataannya aku tidak pernah melakukan sedikit pun usaha untuk itu. Seknario lain : ketika aku memiliki keinginan, kemudian aku melakukan, tapi nyatanya apa yang aku lakukan adalah salah atau kurang tepat. Sehingga hasil yang aku peroleh tak sesuai dengan harapan.
Dua skenario penyesalan tersebut yang aku rasa ada dalam kehidupanku. Tap…

I Won't Give Up

When I look into your eyes It's like watching the night sky Or a beautiful sunrise Well, there's so much they hold And just like them old stars I see that you've come so far To be right where you are How old is your soul?
Well, I won't give up on us Even if the skies get rough I'm giving you all my love I'm still looking up
And when you're needing your space To do some navigating I'll be here patiently waiting To see what you find
'Cause even the stars they burn Some even fall to the earth We've got a lot to learn God knows we're worth it No, I won't give up
I don't wanna be someone who walks away so easily I'm here to stay and make the difference that I can make Our differences they do a lot to teach us how to use The tools and gifts we got, yeah, we got a lot at stake And in the end, you're still my friend at least we did intend For us to work we didn't break, we didn't burn We had to learn how to bend without the …

Yang Terbaik

Manusia hidup dengan keinginan. Mereka mempersiapkan segala sesuatu demi mewujudkan apa yang menjadi cita-cita mereka. Sebagian mendapatkan, sebagian tidak. Sebagian merasa gembira dengan perolehannya. Sebagian tidak. Merasa sedih dengan kegagalannya.
Manusia memang dituntut untuk menyempurnakan usaha. Karena dengan begitu, kita bisa menjemput takdir Tuhan untuk kita. Genapkan usaha. Kemudian berserah. Rahasia terbesarnya ialah, apa yang menurut kita baik dalam pandangan kacamata manusia, ternyata belum tentu sejatinya baik. Sebaliknya, apa yang buruk menurut manusia, belum tentu sejatinya buruk.
 Percayalah. Dengan begitu, semua yang kita hadapi dalam kehidupan ini, akan menjadi bentuk syukur kita kepadaNya. Tidak patut terlalu bergembira atas pemberian dariNya, juga tidak akan bersedih tentang apa yang luput dari keinginan kita.
"Aku menjadi paham jika prasangkaku hanya sekedar prasangka. Tidak lebih. Dan kini kutemui, apa-apa yang terbaik itu tidak pernah ada dalam takaran man…

Jarak

Tidak selamanya apa yang kita sebut sebagai 'jarak' memberikan sebuah persepsi yang negatif. Setidaknya itu yang aku sadari saat ini.
Jarak ini, yang aku lalui saat ini, adalah jarak terbaik yang pernah ada. Mengapa? Karena dengan jarak tersebut aku semakin menyadari bahwa aku masih perlu membenahi diri sendiri. Mendekat kepadamu saat ini rasanya hanya akan menghancurkan diri sendiri.
Tuhan yang tahu, alasan dan tujuan aku berjarak kepadamu. Maka biarkan, rindu ini kepadamu, aku titipkan kepada Tuhan. Dan aku yakin, Tuhan Yang Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya, termasuk dirimu. 
Rindu yang tersimpan rapi apabila ini terbaik untukmu, percayalah, akan sampai kepadamu. Jika tidak, tak mngapa, aku tetap menikmati kesendirianku dengan Tuhan. Karena dengan itu aku belajar untuk tetap berserah diri padaNya.
Jadi...tetaplah pada jarak tersebut. Biarkan aku mengamatimu dari jauh. Membiarkan engkau tumbuh laksana bunga indah yang menanti mekar di penghuhung waktunya. Sedangkan…

Mengenalmu

Kehidupan yang terus berjalan. Selalu mempertemukan dan juga memisahkan. Mereka yang meninggalkan akan tergantikan. Sebagian akan tetap bertahan. Karena mereka telah digariskan.
Bahagiaku adalah ketika bisa mengenalmu. Bahkan untuk bisa sekedar bercanda denganmu, aku sudah sebahagia itu. Mungkin kamu tidak tau. Maka, biarkan aku menyimpan rasa itu. Menyimpannya dalam sudut kecil ruang hatiku.
Aku akan menunggu. Sebuah perpisahan denganmu. Akan kunikmati dengan caraku. Mungkin kamu tidak tau. Tapi biarkan, perpisahan saat itu, Menjadi kepingan penutup bagiku Ketika aku bisa mengenalmu…
Dan dalam keheningan aku beradu Mengharapkanmu untuk tetap bersamaku Mungkin kamu tidak tau


Cukup

Ada bagian hati yang tidak tersampaikan, kemudian kita temukan kata ‘cukup’ untuk mengakhirinya.
Mungkin begitu semestinya.