Langsung ke konten utama

Postingan

Langit Malam

Waktu yang berjalan sepertinya banyak membuatku lupa bagaimana caranya menikmati malam. Sudah lama aku tidak benar-benar merasakan dan benar-benar menanti datangnya malam. Tidak seperti dulu tepatnya. Menanti malam, dan saat ia datang, aku menikmatinya. Kala malam, sesekali aku dengan sengaja memerhatikan langit. Mencoba memikirkan apa yang ada di atas sana, sejauh mata memandang. Termenung dengan sejuta pertanyaan. Apa itu, bagaimana dia di sana, ada apa di sana, bagaimana mungkin benda itu terang sedang yang lain tidak. Guruku bilang, namanya bintang. Ia terang dengan cahayanya sendiri. Aku suka memandang bintang. Ia terlihat kecil-kecil dan begitu banyak. Hanya saja aku lupa, apakah benda itu berkerlip? Lebih-lebih saat kecil, aku suka bermain imajinasi. Mencoba menghubungkan garis-garis yang dibentuk bintang-bintang. Kemudian mengibaratkannya sebagai bentuk hewan, mulai dari kepala ikan sampai dengan rusa bahkan singa. Menarik bukan? Memandang ke arah lain, nampak bulan. Iya...

Pulang

Aku masih (mencoba) bertahan. Berjibaku melawan keadaan, menahan perasaan. Bahkan sepertinya, perlawanan itu telah berbekas ruang yang sulit dihapuskan. Sudah terlalu lama ruang ini terbuka. Semakin lama justru semakin melebar. Bahkan saat ini, sepertinya sudah terlalu lebar. Sehingga sulit untuk dipertahankan. Dari ruang itu, seberkas kenangan terbang menuju angan-angan. Tergambar senyuman keindahan, tanda kesayangan. Kehangatan bukti kecintaan. Ketegasan yang ditampakkan adalah benih pengajaran yang ditanamkan. Semuanya menawarkan kerinduan. Kenangan itu sedikit demi sedikit berputar. Satu perbedaan di sana. Tampak paras kecantikan yang termakan bersama waktu yang berjalan. Keriput yang semakin lama semakin tertampakkan. Uban yang tanpa pengabaran. Ada apa dengan semua itu. Menjadi-jadilah ruang itu. Aku masih (mencoba) bertahan. Sampai akhirnya, tetes pelupuk mata yang memilih untuk melampiaskan. Tidak tertahankan.

Jalan Surga

Derap langkah terbata-bata Melawan deras seretan arus Kerikil-kerikil nan tajam bertebaran Hujan-hujan pun berjejak Kubangan menjadi ranjau penjuru jalan Sepanjang jalan derita menjadi makanan peluh resah bertemu dengan kesedihan Menawarkan mata untuk meneteskan Mungkin tidak banyak yang bertahan Ketika harta bukan menjadi pilihan Pangkat bukan menjadi tujuan Pujian tidak menjadi kebutuhan Justru mensyaratkan pengorbanan Saat-saat para pejalan mulai berguguran Namun tidak bagi mereka yang bertahan Bahkan meskinyawa menjadi taruhan Ketika pemandangan ujung jalan menjadi tawaran Sebuah kenikmatan tidak terbayangkan Tidak pernah terlintas dalam pikiran Tidak tergambarkan dan tidak pernah didengarkan Inilah sebuah jalan Jalan setapak menuju kemenangan Begitu panjang dan melelahkan Mungkin tidak banyak yang bertahan Perkenalkan inilah sebuah jalan jalan surga, jalan kemenangan

Tanam dan Tuai

Apa yang kamu tanam, itulah yang kamu tuai.                           Pepatah tua telah mengajarkan kita akan pelajaran kehidupan.   Ibaratnya seorang petani yang menanam padi, tentu akan menuai padi pada akhirnya. Tidak mungkin menuai mangga, jambu ataupun yang lain. Kebaikan dan keburukan pun berlaku seperti itu.             Seorang pernah berujar, bahwa dunia ini tidak adil. Mengapa? Ia mengatakan, orang-orang baik, yang memiliki akhlak yang bagus, mulia dan terpuji justru tidak merasakan kebaikan yang ditanamnya. Ia berpandangan begitu dengan melihat orang-orang miskin di sekitarnya. Lantas dibandingkan dengan orang-orang kaya raya, justru merasakan kebaikan dunia ini dengan kemewahannya, padahal mereka sendiri memiliki akhlak yang buruk, eogis, lupa sholat, dan lainnya. Lalu? Bagaimana dengan konsep...

Wanita dan Kehormatan

Mengawali tulisan ini, saya hadirkan sebuah fakta yang terjadi di masyarakat kita. Orang mengenalnya dengan Hari Kasih Sayang atau Valentine Day . Menjelang hari itu, tersebar informasi mengenai pembelian cokelat gratis kondom. Paket tersebut ditemui di sejumlah minimarket di berbagai kota. Dua batang cokelat Silverqueen dan diselipkan kondom Fiesta, kemudian dikemas dalam bungkus plastik dan diikat pita merah muda. Pertanyaannya, apakah tujuannya? Tidak perlu dijawab. Saya pikir, kita mesti paham apa yang diinginkan oleh orang-orang yang berada di balik fenomena ini. Menyedihkan. Seorang pria berdiri di persimpangan jalan. Mengenakan pakaian yang menawan. Membawa sekotak cokelat dan seikat mawar yang rupawan. Menjajakan kepada wanita di jalanan. Dengan lantang mengatakan.. “kehormatan… kehormatan” Seorang wanita berdiri di persimpangan jalan. Mengenakan pakaian yang menawan. Mencari pria dengan cokelat dan seikat mawar yang rupawan Dengan lantang menjajak...

Perjalananmu ke Masjid

Untukmu anakku… Tahukah kamu nak? Perjalan terjauh dan terberat bagi seorang lelaki adalah perjalanan ke masjid. Sebab banyak orang kaya tidak sanggup mengerjakannya Jangankan sehari lima waktu, bahkan banyak pula yang seminggu sekali pun terlupa Tidak jarang pula seumur hidup tidak pernah singgah ke sana. Perjalan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid. Karena orang pintar dan pandai pun sering tidak mampu menemukannya Walaupun mereka mampu mencari ilmu hingga ke universitas Eropa ataupun ke Amerika Mudah melangkahkan kaki ke Jepang, Australia dan Korea dengan semangat yang membara Namun ke masjid tetap saja perjalanan yang tidak mampu mereka tempuh walau telah bertitel S3 Perjalan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid. Karena para pemuda yang kuat dan bertubuh sehat yang mampu menaklukkan puncak Gunung Bromo dan Merapi pun sering mengeluh ketika diajak ke masjid Alasan mereka pun beragam Ada yan...