Langsung ke konten utama

Postingan

Rinduku padamu

Sungguh kelahiranmu telah diberkahi oleh Allah dan manusia di seluruh jagat raya ini. Malaikat tak henti bertasbih menyebut namamu. Begitu engkau lahir, tanpa sebab yang jelas, tiang penyangga istana Kisra patah, istananya pun runtuh Begitu engkau lahir, api yang biasa disembah orang Majusi itu seketika padam, hingga membuat mereka gundah gulana Begitu engkau lahir, gereja – gereja sekitar istana Buhairah runtuh seperti ditelan bumi Benar sekali kerasulanmu. Semua itu menjanjikan risalah yang kau pegang adalah kebenaran yang tak terbantahkan lagi. Dan ia akan membungkam risalah batil yang menyesatkan manusia. Untuk itulah Allah memberikan pertanda baik, kebatilan diruntuhkan sebagian untuk memperkuat risalahmu.   Yaa Nabi … Yaa Rasul.... Yaa Muhammad… Benar. Engkau lah manusia terpilih. Engkau lah yang terbaik, di antara seluruh manusia. Shalawat serta salam, akan senantiasa tercurahkan untukmu. Rinduku kepadamu

Tidakkah Kita Ingat?

Sejatinya diri ini telah berjanji... Kepada Dzat yang menciptakan Sejatinya diri ini telah mengakui... Rendahnya diri ini atas Kuasa Sang Ilahi Tidakkah kita ingat? Kepada Dzat yang menciptakan kita? Tidakkah kita ingat? Kepada Dzat yang berkuasa atas diri kita? Tidakkah? Sesungguhnya, oleh Nya kita tercipta, dan juga kepadaNya lah kita akan kembali “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (QS: Al-A'raf Ayat: 172)

Yang Aku Tahu, Allah Membersamaiku

“Yang Aku Tahu, Allah Membersamaiku” Indpired book : Jalan Cinta Para Pejuang, Ust. Salim A Fillah “Kalau ini perintah Allah, dia sekali – kali takkan pernah menyia – nyiakan kami.” Sebuah kalimat indah terlontar dari mulut Ibunda Siti Hajar. Tatkala, sang suami Nabi Ibrahim a.s berusaha untuk meninggalkan ia dan bayinya di sebuah lembah tak berpenghuni. Gersang. Tak tampak hewan. Tak tampak tanaman. Dari mata Nabi Ibrahim a.s, terlihat berkaca – kaca, seakan tak kuasa dan tak tega meninggalkan dua insan yang begitu dicintai. Apalagi, terhadap bayinya yang telah begitu lama ia harapkan kedatangannya.   Dalam diam, seakan menjadi ekspresi Nabi Ibrahim a.s. atas kecamuknya dalam hati. Semua itu ia lakukan, tidak lain dan tidak bukan karena perintah Allah SWT. Meski terasa berat. Meski terasa sulit. Tapi tidak ada pilihan lain baginya atas semua perintahNya. Nabi Ibrahim a.s. tidak pernah tahu, apa yang akan terjadi setelah ia meninggalkan keluarganya di lembah...