Langsung ke konten utama

Terima Kasih


Terima kasih, telah mengajarkanku untuk ‘lebih’ mempercayai Tuhan.
Benar-benar menyerahkan seluruhnya atas kehendak-Nya, termasuk dalam hal memilikimu.

Terima kasih, telah menyadarkanku akan cinta matahari kepada bumi.
Mendekatimu hanya akan ‘membunuh’ kita bersama. Terjerembab dalam kesalahan yang mungkin akan kita sesali di masa depan. Kesalahan yang sama, karena kita tahu, kita pernah sama-sama melakukannya.

Jika cinta menyaratkan perjuangan dan pengorbanan, batas yang bisa aku lakukan untukmu saat ini, hanyalah mendoakan. Menyebut namamu dalam sujud panjangku. Bermunajat atas doa yang kuharap. Benar bukan? Cuma itu saja kan yang bisa kulakukan? Maka yakinkanlah aku. Terima kasih.

Jika cinta membutuhkan keikhlasan, ajari aku, bagaimana melepasmu untuk orang lain. Satu hal terpahit yang tidak bisa tidak terpikirkan dalam benakku. Karena rasanya, pencarianku telah berhenti. Tepat pada dirimu.

Maka, ajari aku. Bagaimana beradu dengan perasaan dan waktu. 
Terima kasih.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang Terbaik

Manusia hidup dengan keinginan. Mereka mempersiapkan segala sesuatu demi mewujudkan apa yang menjadi cita-cita mereka. Sebagian mendapatkan, sebagian tidak. Sebagian merasa gembira dengan perolehannya. Sebagian tidak. Merasa sedih dengan kegagalannya. Manusia memang dituntut untuk menyempurnakan usaha. Karena dengan begitu, kita bisa menjemput takdir Tuhan untuk kita. Genapkan usaha. Kemudian berserah. Rahasia terbesarnya ialah, apa yang menurut kita baik dalam pandangan kacamata manusia, ternyata belum tentu sejatinya baik. Sebaliknya, apa yang buruk menurut manusia, belum tentu sejatinya buruk.  Percayalah. Dengan begitu, semua yang kita hadapi dalam kehidupan ini, akan menjadi bentuk syukur kita kepadaNya. Tidak patut terlalu bergembira atas pemberian dariNya, juga tidak akan bersedih tentang apa yang luput dari keinginan kita. "Aku menjadi paham jika prasangkaku hanya sekedar prasangka. Tidak lebih. Dan kini kutemui, apa-apa yang terbaik itu tidak pernah ada da...

Segenap Kekurangan

Captured April 6, 2021 Menjalani kehidupan di jenjang yang berbeda membutuhkan penyesuaian. Dalam segala hal. Terlebih bagi seorang pasangan suami istri yang menjalani kehidupan 24 jam Bersama. Seperti halnya pasangan yang lain, sudah tentu masing-masing dari kami memiliki banyak kekurangan. Satu hal yang kupercaya, bahwa Allah SWT. mempertemukan kedua insan dalam bahtera rumah tangga, pasti keduanya dipertemukan untuk saling melengkapi kekurangan-kekurangan itu. Sampai detik ini, dengan segala kekuranganku yang terjaga dengan kelebihan istriku, aku berjanji untuk selalu mencoba menjadi lebih baik dari sebelumnya. Menjadi seorang imam yang baik, seorang sahabat yang peduli, seorang teman yang baik bagi dirinya. Aku berjanji… Ah iya.. foto itu diambil saat piknik di Glamping Jogja. Dengan 2 buah sepeda lipat yang sudah jarang terpakai… :p Mudah-mudahan bisa terpakai lagi dengan latar foto yang berbeda 😊