Langsung ke konten utama

Postingan

Tanam dan Tuai

Apa yang kamu tanam, itulah yang kamu tuai.                           Pepatah tua telah mengajarkan kita akan pelajaran kehidupan.   Ibaratnya seorang petani yang menanam padi, tentu akan menuai padi pada akhirnya. Tidak mungkin menuai mangga, jambu ataupun yang lain. Kebaikan dan keburukan pun berlaku seperti itu.             Seorang pernah berujar, bahwa dunia ini tidak adil. Mengapa? Ia mengatakan, orang-orang baik, yang memiliki akhlak yang bagus, mulia dan terpuji justru tidak merasakan kebaikan yang ditanamnya. Ia berpandangan begitu dengan melihat orang-orang miskin di sekitarnya. Lantas dibandingkan dengan orang-orang kaya raya, justru merasakan kebaikan dunia ini dengan kemewahannya, padahal mereka sendiri memiliki akhlak yang buruk, eogis, lupa sholat, dan lainnya. Lalu? Bagaimana dengan konsep...

Wanita dan Kehormatan

Mengawali tulisan ini, saya hadirkan sebuah fakta yang terjadi di masyarakat kita. Orang mengenalnya dengan Hari Kasih Sayang atau Valentine Day . Menjelang hari itu, tersebar informasi mengenai pembelian cokelat gratis kondom. Paket tersebut ditemui di sejumlah minimarket di berbagai kota. Dua batang cokelat Silverqueen dan diselipkan kondom Fiesta, kemudian dikemas dalam bungkus plastik dan diikat pita merah muda. Pertanyaannya, apakah tujuannya? Tidak perlu dijawab. Saya pikir, kita mesti paham apa yang diinginkan oleh orang-orang yang berada di balik fenomena ini. Menyedihkan. Seorang pria berdiri di persimpangan jalan. Mengenakan pakaian yang menawan. Membawa sekotak cokelat dan seikat mawar yang rupawan. Menjajakan kepada wanita di jalanan. Dengan lantang mengatakan.. “kehormatan… kehormatan” Seorang wanita berdiri di persimpangan jalan. Mengenakan pakaian yang menawan. Mencari pria dengan cokelat dan seikat mawar yang rupawan Dengan lantang menjajak...

Perjalananmu ke Masjid

Untukmu anakku… Tahukah kamu nak? Perjalan terjauh dan terberat bagi seorang lelaki adalah perjalanan ke masjid. Sebab banyak orang kaya tidak sanggup mengerjakannya Jangankan sehari lima waktu, bahkan banyak pula yang seminggu sekali pun terlupa Tidak jarang pula seumur hidup tidak pernah singgah ke sana. Perjalan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid. Karena orang pintar dan pandai pun sering tidak mampu menemukannya Walaupun mereka mampu mencari ilmu hingga ke universitas Eropa ataupun ke Amerika Mudah melangkahkan kaki ke Jepang, Australia dan Korea dengan semangat yang membara Namun ke masjid tetap saja perjalanan yang tidak mampu mereka tempuh walau telah bertitel S3 Perjalan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid. Karena para pemuda yang kuat dan bertubuh sehat yang mampu menaklukkan puncak Gunung Bromo dan Merapi pun sering mengeluh ketika diajak ke masjid Alasan mereka pun beragam Ada yan...

Rute yang Tepat

Adakah di antara kita ada yang mengetahui pasti masa depan masing-masing? Aku mulai dari pertanyaan itu. Pertanyaan itu muncul setelah saya berbincang-bincang dengan seseorang yang kalau boleh saya bilang, begitu gigih memerjuangkan hidupnya. Bukan berasal dari keluarga yang mampu. Sehingga ia harus bertempur ‘sendiri’ melawan kerasnya dunia ini. Saya tahu beliau melakukan banyak pekerjaan agar dapat mencukupi kebutuhan hidup dirinya. Banyak pekerjaan. Mulai dari mengumpulkan barang-barang plastik sampai dengan berjualan baju batik. Salah satu hal yang saya dapat dari perbincangan itu, beliau mengatakan, “ apapun pekerjaannya selama itu tidak dilarang dalam agama dan negara, yaudah saya lakoni saja ”. Saya sendiri mengambil banyak pelajaran dari beliau. Oke, kembali ke pertanyaan awal tadi. Saya pikir, kita sudah tahu jawabannya. Tentu tidak. Tidak ada orang yang tahu pasti bagaimana masa depannya. Tidak ada yang tahu pasti akan menjadi apa dirinya sepuluh tahun mendatang. Bahka...
“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan Semesta Alam. Tiada sekutu bagiNya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah." (QS. Al An’am: 162-163)

Hujan.

Hujan. Rintik air. Gemericik. Guntur. Awan. Aku suka dengan hujan. Bagiku, hujan itu menyimpan keindahan. Kita berbicara tentang hujan. Tentang sesuatu yang semenjak dulunya membasahi bumi. Kita berbicara tentang sesuatu yang menjadi saksi bisu bumi ini. Entah sudah berapa kali aku melihat hujan. Entah berapa lama waktu yang aku habiskan dengan hujan. Hujan dulu. Hujan saat ini. Samakah? Bagiku, hujan itu menyimpan keindahan. Aku terheran, bagaimana bisa ketika hujan datang, justru orang kecewa dan menyalahkan hujan. Mana yang salah? Apakah salah ketika tanah yang kering ini menginginkan hujan? Apakah salah ketika pepohonan yang dimakan layu ini meminta hujan? Salahkan ketika hewan-hewan di daratan meneguk air hujan untuk membasahi mulutnya? Janganlah seperti itu. Jangan kita berpikiran sempit. Padahal dengan hujanlah, bumi ini tumbuh. Kita saja yang tidak tahu. Saat hujan, pepohonan dan rumput ilalang menyambut gembira, memanjangkan akar-akarnya sehingga dap...